Tragedi Manusia dan Belas Kasih Tuhan

Oleh Rev. Albertus Herwanta, O. Carm

Masa Prapaskah mengingatkan kita akan pentingnya pertobatan dalam bingkai belas kasihan Tuhan. Sabda Tuhan mengisahkan tragedi manusia dalam kaitan dengan pertobatan dan kesabaran Tuhan.

Bacaan pertama dan kedua (Keluaran 3:1-8a.13-15 dan 1 Korintus 10:1-6.10-12) berbicara tentang Tuhan yang membebaskan bangsa Israel dari Mesir. Tuhan memperhatikan tragedi yang mereka alami. Injil Lukas 13:1-9 menyajikan pesan yang kuat tentang kesempatan kedua dan mendorong kita untuk merefleksikan hidup kita serta melangkah pulang kepada Tuhan.

Bacaan injil menceritakan dua peristiwa tragis: pembunuhan orang-orang Galilea oleh Pilatus dan runtuhnya menara di Siloam, yang mengakibatkan kematian delapan belas orang (Lukas 13:1-4). Peristiwa-peristiwa ini mendorong Yesus untuk berbicara kepada orang banyak, memperingatkan mereka bahwa jika mereka tidak bertobat, mereka akan binasa seperti para korban tersebut (Lukas 13:3, 5). Tragedi hendaknya mendorong orang untuk menghasilkan buah pertobatan.

Yesus melukiskan pokok penting ajaran-Nya dengan perumpamaan pohon ara (Lukas 13:6-9). Seorang pria menanam pohon ara di kebun anggurnya, tetapi pohon itu gagal menghasilkan buah selama tiga tahun. Pemiliknya ingin menebangnya, tetapi pengurus kebun berbicara atas nama pohon itu, meminta satu tahun lagi untuk merawat pohon itu dan memberinya pupuk. Jika pohon itu masih gagal menghasilkan buah, maka pohon itu akan ditebang.

Perumpamaan ini menyampaikan panggilan untuk bertobat, mengingatkan kita bahwa Tuhan itu sabar dan memberi kesempatan kedua. Sama seperti pengurus kebun memohon untuk pohon ara, Yesus berbicara atas nama kita, menawarkan kita kesempatan untuk menghasilkan buah melalui pertobatan.

Merefleksikan bacaan-bacaan hari ini kita perlu bertanya tentang hal-hal berikut. Pertama, apakah kita menyadari bahwa Tuhan peduli akan tragedi yang menimpa diri kita? Tragedi terbesar adalah hidup dalam dosa. Tuhan ingin membebaskan kita seperti Dia membebaskan bangsa Israel dari Mesir.

Kedua, dosa apa saja yang selama ini menghambat kita mengalami belas kasih Tuhan? Bukankah sikap tegar hati dan sombong, misalnya, kerap membuat kita jauh dari Tuhan dan keselamatan-Nya? Ini tragedi.

Ketiga, apakah kita menghasilkan buah yang menyenangkan Tuhan, atau apakah kita layu seperti pohon ara yang tidak berbuah? Kita perlu merespons panggilan Tuhan untuk bertobat dan kembali kepada-Nya dengan sikap rendah hati.

Kesimpulannya, Tuhan memberi kesempatan kedua dan mengundang kita untuk bertobat dan kembali kepada-Nya. Semoga kita memanfaatkan masa Prapaskah untuk merefleksikan hidup kita, meminta pengampunan atas dosa, dan menghasilkan buah yang menyenangkan Tuhan. Semoga perjalanan rohani kita menuju perayaan Paskah dijiwai dengan iman dan kasih kepada Tuhan yang terus diperbarui. Dengan demikian tragedi dosa tidak membuat kita binasa, melainkan membawa belas kasih Tuhan.

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Latest Comments