Persembahan Diri kepada Tuhan

Hari ini kita merayakan Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah. Bunda Maria dan Bapa Yusuf membawa bayi Yesus ke Yerusalem untuk memenuhi hukum Musa. Di sana mereka bertemu dengan Simeon dan Hana yang dalam doa tak kunjung henti menanti kedatangan Sang Penyelamat. Peristiwa ini mengandung banyak pesan penting, mendalam, dan relevan bagi kita.

Salah satu pesan pentingnya ialah tentang persembahan. Setiap orang yang disebut dalam Injil hari ini memberikan pelajaran penting tentang persembahan. Pertama, Bunda Maria dan Bapa Yusuf mempersembahkan Yesus yang Tuhan percayakan kepada mereka. Ini mengajar kita untuk mempersembahkan kepada Tuhan semua yang telah kita terima dari-Nya.

Kedua, Simeon menantang bagi Yesus sambil mengatakan kidung yang amat terkenal. “Sekarang Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu” (Lukas 2:29-30). Dengan doa itu, Simeon mempersembahkan kembali seluruh hidupnya kepada Tuhan. Gereja mendoakannya setiap malam dalam Ibadat Penutup sebelum orang pergi tidur, “Ke dalam tangan-Mu, ya Tuhan, kuserahkan hidupku.” Doa persembahan diri kepada Tuhan ini amat indah dan mendalam.

Ketiga, nabiah Hana yang selalu tinggal di dalam Bait Allah itu menantikan kedatangan Sang Penyelamat dalam doa dan puasa serta melayani Tuhan. Dia menghabiskan sisa hidup setelah suaminya meninggal untuk melayani Tuhan. Dengan demikian dia mempersembahkan hidupnya kepada Tuhan pula.

Santo Yohanes Paulus II menetapkan Pesta Tuhan Yesus Dipersembahkan di Bait Allah (tanggal 2 Februari) sebagai Hari Doa Sedunia untuk mereka yang mempersembahkan hidupnya secara khusus kepada Tuhan, yakni para imam dan biarawan-biarawati. Gereja mengajak kita mendoakan mereka.

Bagi kaum awam, pesta ini mengingatkan akan persembahan diri yang mewarnai kehidupan sehari-hari. Suami dan isteri saling mempersembahkan hidup satu sama lain. Orangtua mempersembahkan hidup bagi anak-anaknya. Kaum profesional mempersembahkan hidup mereka di bidangnya masing-masing. Para guru, misalnya, mempersembahkan hidup bagi para muridnya.

Ketika merayakan Ekaristi, kita mempersembahkan diri kita bersama Yesus. Sebagaimana kita ingin mempersembahkan yang terbaik kepada sesama, itu pula yang kita persembahkan kepada Tuhan. Yesuslah yang mampu memberikan persembahan sempurna kepada Tuhan. Bersama dengan persembahan-Nya kita menghunjukkan persembahan kita kepada Tuhan.

Semoga kita merayakan Ekaristi dengan hati yang suci dan mempersembahkan diri kita bersama Yesus. Semoga daya rahmat sakramen ini menjiwai hidup dan karya kita sehari-hari supaya itu menjadi persembahan diri kepada Tuhan.

Tags:

Comments are closed

Latest Comments