SETITIK DEBU

Oleh Mina Munanto

Hari Rabu abu mengingatkan bahwa kita berasal dari debu, kecil dan tidak berarti. Setinggi apapun jabatan atau karir kerja kita, manusia tetaplah mahluk lemah dan tidak berdaya. Mungkin saat ini kita sehat dan kuat, siapa yang tahu apa yang akan terjadi esok hari? Masihkah kita diberi kesempatan untuk tetap bernafas dan menikmati dunia ini?

Kejadian alam yang tidak biasanya terjadi dimana mana. Hewan air dari lautan dalam keluar dipermukaan laut, angin kencang melanda beberapa tempat, hujan badai yang menyebabkan longsor dan banjir di beberapa negara. Tuhan marah atau memang kesalahan manusia yang merusak alam tanpa memikirkan masa depan?

Seringkali manusia lupa, kita perlu menjaga alam dan segala sesuatu yang Tuhan titipkan kepada kita, tubuh kita, anak, harta dunia dan yang lainnya. Semua hanya titipan. Manusia serakah, banyak yang saling membunuh untuk menunjukkan kekuasaan atau meraih harta yang lebih banyak, padahal belum tentu diberikan waktu untuk menikmati. Aturlah hidup ini dengan baik, karena waktu kita terbatas.

Sedih sekali mendengar kasus korupsi yang melanda Indonesia yach. Memang bukan berita baru, sepertinya sudah menjadi kebudayaan buruk kalau korupsi terjadi dari pejabat atas sampai bawah. Kapan yach Indonesia bisa dipimpin oleh presiden dan para menteri yang seperti malaikat, yang sungguh bekerja demi kemajuan negara. Tetapi Tuhan memang baik, hasil alam Indonesia tetap berlimpah walaupun di korupsi sedemikian rupa.
Jangan takabur ketika kita sehat dan jaya, jangan pesimis ketika kita sakit dan lemah, keadaan bisa berbalik kapanpun Tuhan mau. Dia selalu setia dan tidak pernah meninggalkan kita, teruslah berharap dan bergantung padaNya. Karena kita hanyalah setitik debu, kecil dan tidak berarti.

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Latest Comments