Spiritualitas Pencobaan

Oleh Rev. Albertus Herwanta, O. Carm

Mengapa pada hari Minggu Pertama Prapaskah Gereja menyajikan bacaan tentang Yesus yang menghadapi pencobaan (Lukas 4:1-13)? Bukankah orang tidak suka mengalami pencobaan? Yesus pun mengajarkan doa yang isinya meminta orang agar dibebaskan dari pencobaan (Matius 6:13)? Bagaimana menemukan makna dan maksud perikop injil tersebut?

Pertama, pencobaan Yesus di padang gurun itu menggambarkan tantangan yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Seperti Yesus dipimpin oleh Roh masuk ke dalam padang gurun, demikian pula setiap orang dibawa masuk ke dalam “gurun” kehidupannya: masa pencobaan, ujian, dan transformasi.

Kedua, setiap pencobaan itu bermakna positif. Ada yang melihatnya sebagai hal negatif yang tampak dalam kekuatan eksternal yang menakutkan. Namun pencobaan itu membawa sertanya makna positif dan merupakan kesempatan baik untuk menghadapi kelemahan dan keterbatasan diri manusia.

Yesus menghadapi pencobaan di padang gurun tatkala kondisi dirinya sedang lemah dan lapar (Lukas 4:2). Setan menggoda-Nya untuk mencari jalan mudah mengatasi masalah: mengubah batu menjadi roti (Lukas 4:3), menyembah setan demi memperoleh dunia dan kemegahannya (Lukas 4:7), dan memperoleh pujian atau popularitas (Lukas 4:9).

Ketiga, cara menghadapi pencobaan. Yesus memberi teladan dan langkah nyata untuk menghadapi pencobaan. Tiga kali setan mencoba menjauhkan Yesus dari Tuhan, tiga kali pula Yesus menyebut apa yang Tuhan katakan (Lukas 4:4.8.12). Jadi, untuk dapat mengalahkan godaan setan orang mesti menaati Tuhan dan sabda-Nya.

Selama ini banyak orang menghindari pencobaan. Semakin mereka menghindarinya, semakin pencobaan itu menghantuinya. Pencobaan itu memang sering tampak sebagai “malam gelap” kehidupan. Orang mengalami ketidakpastian, keraguan, dan terlepas dari makna dan tujuan hidupnya. Bahkan ada yang mempertanyakan tentang Tuhan yang seolah-olah membiarkan manusia menanggung pencobaan berat sendirian.

Bagaimanakah sebaiknya kita menghadapi pencobaan? Pertama, melihatnya secara positif dan menggunakannya untuk menguji kembali pikiran, perasaan, dan tindakan kita. Apakah motivasi yang mendorong hidup kita. Pencobaan itu dimaksudkan untuk memurnikan makna dan tujuan hidup. Pencobaan di padang gurun mendekatkan Yesus kepada Allah Bapa yang mengutus Dia.

Kedua, menerimanya sebagai kesempatan untuk menyadari diri, terutama kelebihan dan kelemahan diri. Pencobaan bisa membantu orang untuk bertumbuh secara rohani. Pencobaan membantu orang untuk menjadi orang sabar dan menaruh harapan kepada Tuhan.

Akhirnya, orang perlu menghadapi pencobaan agar memperoleh kekuatan batin, kelenturan, dan karakter yang kokoh. Ralp Waldo Emerson berkata, “Kita memperoleh kekuatan dari pencobaan yang kita hadapi.” Yesus yang telah mengalahkan godaan setan selalu menyertai. Apakah kita yakin akan hal itu?

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Latest Comments