Ujian Hati Nurani

Seseorang baru saja diangkat sebagai karyawan toko obat. Ia menemukan banyak manipulasi di sana. Pemilik toko dan karyawannya menipu pelanggan mereka untuk mendapatkan uang. Hal ini mengganggu hati nuraninya dan ia sangat khawatir. Namun, saat ini ia tidak dapat meninggalkan pekerjaannya.

Ia mengalami dilema hati nurani: mencari nafkah untuk keluarganya dengan melakukan hal-hal yang salah secara moral atau meninggalkan pekerjaan yang menyebabkan keluarganya menderita. Setelah memeriksa hati nuraninya, untuk sementara waktu, ia memutuskan untuk tetap tinggal. Namun, begitu ia mendapat pekerjaan baru, ia akan segera meninggalkannya.

Kisah tersebut menggambarkan bahwa hidup kita berada di antara yang buruk dan yang baik; yang benar dan yang salah; yang berdosa atau yang kudus. Itulah pesan mendasar dari bacaan-bacaan hari ini yang membahas tentang kontras antara jalan manusia dan jalan Tuhan.

Yeremia 17:5-8 mengingatkan bahwa mereka yang mengandalkan kekuatan manusia dan berpaling dari Tuhan seperti semak di padang gurun, yang menderita di masa kekeringan dan berjuang untuk bertahan hidup (Yeremia 17:5). Namun, mereka yang mengandalkan Tuhan seperti pohon yang ditanam di tepi air, tumbuh subur dan menghasilkan buah bahkan di masa-masa sulit (Yeremia 17:8).

Dalam Lukas 6:17,20-26, Yesus menyatakan berkat bagi orang miskin, lapar, dan teraniaya, sambil memperingatkan tentang celaka bagi orang kaya, yang cukup makan, dan dipuji orang lain. Ini mengajarkan bahwa nilai-nilai Tuhan, seperti kerendahan hati, belas kasih, dan iman, sering kali bertentangan dengan nilai-nilai dunia, yang mengutamakan kekayaan, kenyamanan, status, dan popularitas.

Kontras itu menunjukkan bahwa jalan Tuhan menuntun pada berkat yang kekal, sementara mengikuti jalan manusia dapat membawa manusia pada hidup yang kosong dan kehancuran rohani.

Pernahkah Anda secara pribadi mengalami kontras itu? Bagaimana cara menghadapinya? Kita perlu mengingat bahwa Tuhan telah memberi kita kemampuan untuk membedakan keduanya dan untuk menjalankan kebajikan. Kita hidup di dunia yang penuh dengan budaya yang bertentangan dengan nilai-nilai dan kebajikan Kristiani.

Fakta ini perlu membuat kita menyadari bahwa menjadi orang Kristen yang utuh dan berkomitmen itu lebih dari sekadar mengetahui apa yang benar atau salah serta memahami nilai-nilai. Kita perlu mempraktikkan kebajikan itu.

Santo Thomas Aquinas mengajarkan pentingnya kebajikan, karena mengembangkan kebiasaan positif dan membantu kita membuat keputusan yang bijaksana, bertindak benar secara moral, dan menumbuhkan karakter yang kuat. Itu menuntun pada ketenangan hati dan kebahagiaan sejati. Untuk mempraktikkan kebajikan itu, kita sering menghadapi ujian nurani. Apakah kita siap melakukannya?

Tags:

Comments are closed

Latest Comments